1. Pembahasan
dan ruang lingkup ulum al-Quran
Secara komprehensif, fokus
pengkajian ulum al-Quran ditekankan pada lima hal; 1) pewahyuan al-Quran, 2)
Sejarah Penulisan al-Quran, 3) Bacaan al-Quran, 4) Pemahaman isi al-Quran dan
5) kemukjizatan al-Quran. Merujuk pada pembagian Alford T. Welch, studi
al-Quran diarahkan pada tiga bidang; (1) exeesis atau studi teks al-Quran itu
sendiri, (2) sejarah interpretasinya dan (3) peran al-Quran dalam kehidupan dan
pemikiran umat Islam.
2. Sejarah
dan buku-buku ‘ulum al-Quran dari masa ke masa
Buku-buku teks tertulis
tentang ulum al-Quran belum ada pada zaman Nabi saw. Baru pada abad ketiga
hijriyah mulai berkembang pembahasan tentang al-Quran secara tertulis.
Pembahasannya dapat dikelompokkan dalam dua bentuk; juz’i (parsial) dan syamil
(komprehensif).
Abad ketiga diawalai dengan pembahasan secara
juz’i: Ali bin al-Madini dan Syaikh al-Bukhari menulis asbab an-nuzul, tidak
masalah yang lain. Muhammad bin Ayyub menulis ayat-ayat Makkiyah dan Madaniyah.
Abad keempat: diawali dengan secara syamil;
Muhammad bin Marzaban; al-Hawi fi ulum al-Quran, Muhammad bin Qasim al-anbari
menulis “ajaib ulum al-Quran, dll.
Abad kelima: Ali bin Ibrahim bin Said
al-Khufi menulis al-Burhan fi ulum al-Quran. Dst.
3. Pengertian
wahyu, tata cara penurunan wahyu, nama-nama al-Quran, hikmah diturunkan
al-Quran berangsur-angsur
Secara bahasa; 1) ilham
fitri yang dimiliki manusia; al-Qashash: 7, 2) ilham insting pada hewan;
an-naml: 68, 3) isyarat yang cepat dengan simbol atau tanda; Maryam: 11,
4)bisikan syaithan; al-An’am; 112, 5) perintah kepada malaikat-Nya; al-Anfal:
12.
Secara istilah: pemberitahuan Allah kepada
manusia pilihannya yang berisi hidayat secara samar dan cepat.
Nama-nama al-Quran: as-Syifa, al-Dzikr,
al-Kitab, al-Furqan, al-nadzir..dst.
Hikmah diturunkan berangsur-angsur;
menguatkan hati Nabi saw., tantangan dan mujizat, mudah dihapal dan dipahami,
kebersesuaian antara ayat dengan peristiwa dan bertahap dalam penerapan hukum,
dll.
4. Ayat-ayat
Makkiyyah dan Madaniyah: pengertian dan ciri-cirinya
Ada tiga kategori pembagian ayat ke dalam
Makkiyah dan Madaniyah: pertama; berdasarkan waktu (zaman nuzul); ayat disebut
Makkiyah apabila ayat tersebut diterima Nabi pada masa sebelum hijrah ke
Madinah (622), sedangkan Madaniyah adalah ayat-ayat yang diterima ketika beliau
sudah hijrah ke Madinah. Kedua; berdasarkan audiensi wahyunya (khitab
an-nuzul); jika khitab ditujukan kepada penduduk Makkah maka termasuk Makkiyah,
sedang jika ditujukan kepada penduduk Madinah maka termasuk ayat-ayat
Madaniyah. Kategori ketiga berdasarkan tempat diterimanya wahyu (makan
an-nuzul); apabila wahyu diterima di Makkah maka termasuk Makkiyah dan
sebaliknya.
Para ulama ulum al-Quran telah berusaha
membuat suatu batasan ayat-ayat kategori Makkiyah dan Madaniyah; batasan ini
dicirikan baik dari sisi redaksi maupun dari sisi tema; dari sisi tema,
Makkiyah: dakwah kepada tauhid, menetapkan dasar-dasar syariat dan akhlak,
penyebutan kisah-kisah umat masa lalu, suratnya pendek-pendek tetepi
kata-katanya kuat. Dll.
5. Pengertian
sabab nuzul, faidah mengetahui asbab an-nuzul, ayat pertama yang diturunkan,
ayat yang terakhir diturunkan
Sabab nuzul bukan hanya
sebab yang melatarbelakangi pewahyuan al-Quran, melainkan dapat pula suatu
pertanyaan, peristiwa atau kejadian yang mengiringi pewahyuan tersebut.
Pengetahuan tentang sabab nuzul diperlukan
untuk mencapai pemahaman yang pasti karena ungkapan al-Quran masih bersifat
umum dan sama sekali tidak menyebutkan situasi atau konteks saat diturunkannya.
Ayat yang pertama diturunkan; sebagian jumhur
adalah surat al-alaq 1-5, sedang yang terakhir adalah surat al-Maidah ayat 3.
6. Pengertian
muhkam dan mutsyabih, jenis-jenis mutsyabih, faidah adanya muhkam dan mutsyabih
Pengertian: Muhkam adalah suatu ayat yang maksudnya sudah diketahui, baik karena
memang kejelasannya ataupun karena proses takwil, sedangkan mutasyabih adalah
ayat yang maksudnya hanya dimiliki oleh Allah saja; seperti ayat tentang
terjadinya kiamat, keluarnya dajjal dan huruf-huruf penggalan (muqattha’ah)
di setiap awal surat.
Jenis:
mutasyabih yang pertama, yaitu dari aspek lafadz dibagi dua; lafadz mufrad
dan jumlah murakkab. Contoh yang mufrad adalah kata “al-abb,
yaziffun, al-ayad dan al-yamin”. Contoh yang murakkab adalah:
وإن حفتم ألا تقسطوا في اليتامى فانكحوا ما طاب لكم من النساء (للإختصار
ليس كمثله شيء (للبسط
أنزل على عبده الكتاب ولم يجعل له عوجا قياما (لنظم
الكلام
Jenis Mutasyabih yang kedua, yaitu dari aspek makna
adalah mengenai sifat-sifat Allah dan gambaran tentang kiamat. Sifat dan
gambaran tersebut tidak dapat terbetik oleh kita, karena kita belum merasakan
dan bukan jenis kita.
Jenis mutasyabih yang ketiga, yaitu dari aspek makna dan
lafadz ada lima macam; pertama, dari aspek kuantitas, seperti ayat yang
bersifat umum atau khusus. Seperti ayat “fa (u)qtulu al-musyrikin”.
Kedua, dari aspek kualitas, seperti kata yang menunjukan kepada wajib atau nadab.
Contoh; “fa ankihu ma thaba lakum min an-nisa”. Ketiga, dari aspek
waktu, seperti adanya nasikh dan mansukh. Contoh: “ittaqu Allah haqqa tuqatih”.
Keempat, dari aspek tempat dan hal-hal yang berkaitan dengan turunnya ayat.
Seperti ayat:
وليس البر بأن تأتوا البيوت من ظهورها إنما النسيء زيادة في الكفر
Orang
yang tidak mengetahui kebiasaan jahiliyyah akan kesulitan memahami ayat-ayat
tersebut. Kelima, dari aspek syarat yang dengannya suatu amal akan sah atau
tidak, seperti syarat-syarat shalat dan nikah.
Hikmah: Di antaranya: 1)Sebagai hujjah Allah
kepada orang-orang Arab yang selalu membanggakan diri dengan kepiawaiannya
dalam berbahasa, baik dalam balaghah, qasar maupun ithnab. 2)Sebagai batu ujian
kepada orang-orang mukmin untuk mernungkan maknanya dan mengembalikan makna nya
kepada orang yang berilmu, sehingga dia mendapat pahala yang besar.
7. Pengertian i’jaz al-Quran, jenis-jenis i’jaz al-Quran
Akar
kata I’jaz diambil dari mashdar dari kata ‘ajaza-yu’jizu-i’jazan
yang berarti Tidak berdaya atau ketidakmampuaan seseorang akan sesuatu.
Sedangkan
mukjizat berarti: Kejadian atau peristiwa luar biasa (khoriq al-‘adah) yang
disertai tantangan (untuk menirunya), yang ada pada diri seseorang yang berasal
dari Allah untuk menguatkan risalah yang diembannya
Sesuatu dapat dinilai sebagai mukjizat bila memiliki tiga aspek: Tantangan, untuk mengungguli atau setidaknya menyamai kemampuan yang dimilkinya, Kepastian tidak adanya orang lain yang mampu mengungguli atau menyamainya, Kesempatan bagi orang lain untuk mengungguli atau menyamainya.
Sesuatu dapat dinilai sebagai mukjizat bila memiliki tiga aspek: Tantangan, untuk mengungguli atau setidaknya menyamai kemampuan yang dimilkinya, Kepastian tidak adanya orang lain yang mampu mengungguli atau menyamainya, Kesempatan bagi orang lain untuk mengungguli atau menyamainya.
Mukjizat
dibagi dua kategori: Mu’jizat Indrawi (Hissiyyah); Mukjizat jenis ini
diderivasikan pada kekuatan yang muncul dari segi fisik yang mengisyaratkan
adanya kekuatan di luar nalar pada seorang nabi. Contohnya mukjizat laut yang
dibelah oleh Nabi Musa, api menjadi dingin dalam kasus Nabi Ibrahim dan
lainnya.. Mukjizat Rasional (’aqliyah) Mukjizat ini berupa kemampuan intelektual
yang rasional seperti Al-Qur’an sebagai mukjizat Nabi Muhammad. Dan mukjizat
ini akan terus berlangsung hingga hari kiamat.
Meskipun al-Quran
diklasifikasian sebagai mukjizat rasional ini tidak serta merta menafikan
mukjizat-mukjizat fisik yang telah dianugerahkan Allah kepadanya untuk
memperkuat dakwahnya
Aspek Mukjizat
Al-Qur’an;
Keindahan Bahasa dan
Keindahan Redaksi Al-Qur’an ( I'jaz Lughowi)
Meskipun bangsa Arab telah memiliki tata bahasa yang tinggi nilai keindahannya (balaghah), mereka pun dikenal sangat baik dalam menyampaikan penjelasan penjelasan (al-bayan), keserasian dalam menyusun kata-kata, serta kelancaran logika.
Meskipun bangsa Arab telah memiliki tata bahasa yang tinggi nilai keindahannya (balaghah), mereka pun dikenal sangat baik dalam menyampaikan penjelasan penjelasan (al-bayan), keserasian dalam menyusun kata-kata, serta kelancaran logika.
Begitu pula
ketinggian dalam bahasa dan sastra, karena sebab itulah Al-Quran menantang
mereka agar bisa membuat satu ayat saja dari Al-Qur’an. Namun mereka tidak
mampu melakukannya
Aspek Penunujukan Ilmiah ( I'jaz Ilmi)
1. Stimulasi Al-Quran kepada manusia untuk selalu berfikir keras atas dirinya sendiri dan memikirkan kejadian di alam semesta.
2. Al-Quran dalam mengemukakan argument serta penjelasan ayat-ayat ilmiah, diantaranya:
A. Isyarat tentang Sejarah Tata Surya
Allah SWT berfirman: Dan Apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka Mengapakah mereka tiada juga beriman?” (QS. Al-Anbiya: 30).
B. Isyarat tentang Fungsi Angin dalam Penyerbukan Bunga
Allah SWT berfirman: “Dan Kami telah meniupkan angin untuk mengawinkan (tumbuh-tumbuhan) dan Kami turunkan hujan dari langit, lalu Kami beri minum kamu dengan air itu, dan sekali-kali bukanlah kamu yang menyimpannya.” (QS. Al-Hijr: 22)
C. Isyarat tentang Sidik Jari manusia
Allah SWT berfirman: “Bukan demikian, Sebenarnya kami Kuasa menyusun (kembali) jari jemarinya dengan sempurna.” (QS Al-Qiyamah 4)
1. Stimulasi Al-Quran kepada manusia untuk selalu berfikir keras atas dirinya sendiri dan memikirkan kejadian di alam semesta.
2. Al-Quran dalam mengemukakan argument serta penjelasan ayat-ayat ilmiah, diantaranya:
A. Isyarat tentang Sejarah Tata Surya
Allah SWT berfirman: Dan Apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka Mengapakah mereka tiada juga beriman?” (QS. Al-Anbiya: 30).
B. Isyarat tentang Fungsi Angin dalam Penyerbukan Bunga
Allah SWT berfirman: “Dan Kami telah meniupkan angin untuk mengawinkan (tumbuh-tumbuhan) dan Kami turunkan hujan dari langit, lalu Kami beri minum kamu dengan air itu, dan sekali-kali bukanlah kamu yang menyimpannya.” (QS. Al-Hijr: 22)
C. Isyarat tentang Sidik Jari manusia
Allah SWT berfirman: “Bukan demikian, Sebenarnya kami Kuasa menyusun (kembali) jari jemarinya dengan sempurna.” (QS Al-Qiyamah 4)
Aspek Sejarah dan Berita Ghaib (I'jaz Tarikhiy)
Sejarah generasi masa lampau.
Kegaiban Masa Kini,
Diantaranya terbukanya niat busuk orang munafik di masa Rasulullah. Allah Swt
berfirman : Dan di antara manusia ada orang yang ucapannya tentang kehidupan
dunia menarik hatimu, dan dipersaksikannya kepada Allah (atas kebenaran) isi
hatinya, Padahal ia adalah penantang yang paling keras.(QS. Al-Baqarah: 204)
Ramalan kejadian masa mendatang
Diantaranya ramalan
kemenangan Romawi atas Persia di awal surat ar-Ruum.
Aspek Ketetapan Hukum ( I'jaz Tasyri'i)
Aspek Ketetapan Hukum ( I'jaz Tasyri'i)
Diantara hal-hal yang
mencengangkan akal dan tak mungkin dicari penyebabnya selain bahwa al-Quran
adalah wahyu Allah, adalah terkandungnya syari’at paling ideal bagi umat
manusia, undang-undang yang paling lurus bagi kehidupan, yang dibawa al-Quran
untuk mengatur kehidupan manusia yang mencakup seluruh aspek kehidupan manusia.
Meskipun memang banyak aturan hukum dari Al-Quran yang secara 'kasat mata'
terlihat tidak adil, kejam dan sebagainya, tetapi sesungguhnya di balik itu ada
kesempurnaan hukum yang tidak terhingga.
Diantara produk hukum Al-Quran yang menakjubkan antara lain :
Diantara produk hukum Al-Quran yang menakjubkan antara lain :
Hukuman Hudud bagi pelaku Zina, Pencurian,
dsb. (QS An-Nuur 2-3)
Hukuman Qishas bagi Pembunuhan ( QS
Al-Baqoroh 178-180)
Hukum Waris yang detil (QS An- Nisa 11-12)
Hukum Transaksi Keuangan dan Perdagangan.(QS.
Al-Baqarah: 282
Hukum Perang & Perdamaian. (QS Al-Anfal
61)
Pengertian nasikh mansukh, jenis nasikh
mansukh, ayat yang dimansukh, perbedaan pendapat ulama tentang nasikh mansukh
Kata nasikh mempunyai arti
bermacam; mengganti, memindahkan, menyalin atau menghapuskan. Namun dari
arti-arti tersebut, nasikh mansukh dipahami sebagai “ayat-ayat yang
menghapuskan atau membatalkan dan yang dihapuskan atau dibatalkan. Kejadian ini
oleh para ahli dihubungkan dengan kekuasaan Tuhan untuk menghapuskan dan
menetapkan apa yang dikehendaki-Nya.
Jenis nasikh ada beberapa; nasikh al-Quran
dengan al-Quran, Sunah oleh al-Quran, Sunah oleh Sunah dan ada yang
memeperbolehkan nasikh al-Quran oleh Sunah. Namun dalam pembicaraan ulum
al-Quran tentu saja yang dimaksud adalah kategori pertama.
Nasikh- mansukh terdapat pro- kontra;
kelompok pertama yang mengatakan bahwa nasakh ada dalam al-Quran, yaitu dari
kalangan jumhur dan kalangan fuqaha. Kelompok kedua menolak adanya nasakh dalam
al-Quran. Kelompok ini biasanya dinisbatkan kepada pengikut Mu’tazilah seperti
Abu Muslim al-Asfhani. Tetapi bagaimanapun, ayat-ayat nasikh semakin hari
semakin berkurang. Syah Waliyullah (seorang peneliti ulum al-Quran) dari 21
ayat yang dinyatakan oleh as-Suyuti yang mansukh hanya 5 yang menurutnya masih
dikategorikan nasikh mansukh, yaitu; Mansukh; QS 58:12 dinasikh QS 58:13,
mansukh QS 2:180 dinasikh QS 4:11 dan 12, mansukh QS 2:240 dinasikh QS 2:234,
mansukh QS8:65 dinasikh QS 8:62 dan mansuh QS 33:50 dinasikh QS 33:52.
Pengertian terjemah, pengertian tafsir,
syarat mufassir dan etika menafsirkan
Tafsir secara bahasa adalah; al-ibanat,
al-kasyfu dan idzhar al-makna al-ma’qul. Secara istilah tafsir
adalah ilmu yang membahas tentang tata cara pengucapan lafadz al-Quran,
petunjuk-petunjuknya, hukum-hukumnya yang tunggal maupun yang berangkai, dan
sekaligus penjelasan makna yang dikandung oleh lafadz dan tarkibnya. Kata
tafsir hanya sekali digunakan dalam al-Quran, yakni dalam surat al-furqan (25)
ayat 33. Tujuan tafsir adalah memperjelas makna kata-kata dan pemahaman teks
al-Quran. Ia juga berfungsi untuk mengadaptasi al-Quran pada situasi penafsir.
Dengan kata lain, tafsir tidak hanya memiliki aspek teoritis tetapi juga aspek
praktis karena ia berusaha agar teks tersebut benar-benar berfungsi bagi
prilaku para pengikutnya. Tafsir dibutuhkan karena ada persoalan makna yang tak
terpecahkan, atau uraian yang tidak memadai, adanya kontradiksi internal teks
atau adanya makna yang tak dapat diterima. Sedangkan terjemah adalah naqlu
alfadz min lughatin ila lughat ukhra bi haitsu yakunu an-nudzum muwafiqan li
an-nudzum, wa at-tartib muwafiqan li at-tartib, “memindahkan suatu kata
dari satu bahasa ke bahasa lain dimana setiap susunan bahasa harus dijaga
demikian pula dengan urutan katanya”. Ada juga yang mendefinisikan terjemah
sebagai berikut; menjelaskan makna kalam dengan bahasa lain tanpa terikat oleh
susunan kalimat bahasa aslinya. Dengan demikian, dari pengertian yang sudah
dipaparkan dapat dibedakan antara tafsir dengan terjemah. Walaupun demikian,
ada sebagian orang yang menganggap bahwa terjemah adalah bagian dari tafsir,
karena bagaimanapun ketika seseorang menerjemahkan ke bahasa lain dia berusaha
menjelaskan teks tersebut dengan bahasanya, sekaligus memberi peluang bagi
munculnya perbedaan-perbedaan pengertian diantara bahasa asli dan bahasa
terjemahan ketika diungkapkan.
Syarat mufassir antara lain; keyakinannya
sehat, terlepas dari hawa nafsu, memulai penafsiran dengan al-Quran itu
sendiri, baru dengan hadits, mengetahui dan memahami bahasa Arab dengan semua
jenis cabang keilmuannya.dll.
Pembagian jenis tafsir, metode, sisitematika
dan perkembangan tafsir dan kitabnya dari masa ke masa
Tahlili: Pengertian; Tafsir ini dilakukan secara berurutan ayat demi ayat,
kemudian surat demi surat dari awal hingga akhir sesuai dengan susunan Al
Qur’an. Dia menjelaskan kosa kata dan lafazh, menjelaskan arti yang
dikehendaki, sasaran yang dituju dan kandungan ayat, yaitu unsur-unsur i’jaz,
balaghah, dan keindahan susunan kalimat, menjelaskan apa yang dapat diambil
dari ayat yaitu hukum fiqh, dalil syar’i, arti secara bahasa, norma-norma
akhlak, dan lain sebagainya. Ciri-ciri Metode Tahlili; Penafsiran yang
mengikuti metode ini dapat mengambil bentuk ma'tsur (riwayat) atau ra'y
(pemikiran). Di antara tafsir tahlili yang mengambil bentuk al-Ma'tsur
ialah Jami' al-Bayan an Ta'wil Ayi al-Qur'an karangan Ibnu Jaris at-Thabari (w.
310 H), Ma'alim al-Tazil karangan al-Baghawi (w. 516 H), Tafsir al-Qur'an
al-Azhim (terkenal dengan tafsir Ibnu Katsir) karangan Ibnu Katsir (w. 774 H),
dan al-Durr al-Mantsur fi al-Tafsir bi al-Ma'tsur karangan al-Suyuthi (w. 911
H). Adapaun tafsir tahlili yang mengambil bentuk al-Ra'y banyak sekali,
antaralain : Tafsir al-Khazin karangan al-Khazin (w. 741 H)n Anwar al-Tanzil wa
Asrar al-Ta'wil karangan al-Baydhawi (w. 691 H), al-Kasysyaf karangan
al-Zamakhsyari (w. 538 H), 'Arais al-Bayan fi Haqaiq al-Qur'an karangan
al-Syirazi (w. 606), al-Tafsir al-Kabir wa Mafatih al-Ghaib karangan al-Fakr
al-Razi (w. 606 H), al-Jawahir fi Tafsir al-Qur'an karangan Thanthawi Jauhari,
Tafsir al-Manar karangan Muhammad Rasyid Ridha (w. 1935 H), dan lain-lain.
Metode ijmali (global) ialah mencoba menjelaskan ayat-ayat al-Qur’an secara
ringkas dan padat, tetapi mencakup (global). Metode ini mengulas setiap ayat
al-Qur’an dengan sangat sederhana, tanpa ada upaya untuk memberikan pengkayaan
dengan wawasan yang lain, sehingga pembahasan yang dilakukan hanya menekankan
pada pemahaman yang ringkas dan bersifat global.
Ciri khas metode
ijmali, antara lain. Pertama,
mufasir langsung menafsirkan setiap ayat dari awal sampai akhir, tanpa
memasukkan upaya perbandingan dan tidak disertai dengan penetapan judul,
seperti yang terjadi pada metode komparatif (muqaran) dan metode maudhu’i
(tematik).
Kedua, penafsiran yang sangat ringkas dan bersifat umum,
membuat metode ini lebih sanat tertutup bagi munculnya ide-ide yang lain selain
sang mufasir untuk memperkawa wawasan penafsiran. Oleh karena itu, tafsir
ijmali dilakukan secara rinci, tetapi ringkas, sehingga membaca tafsir dengan
metode ini mengesankan persis sama dengan membaca al-Qur’an.
Ketiga, dalam tafsir-tafsir ijmali tidak semua ayat
ditafsirkan dengan penjelasan yang ringkas, terdapat beberapa ayat tertentu
(sangat terbatas) yang ditafsirkan agak luas, tetapi tidak sampai mengarah pada
penafsiran yang bersifat analitis. Artinya, walaupun ada beberapa ayat yang
ditafsirkan agak panjang, hanya sebatas penjelasan yang tidak analitis dan
tidak komparatif.
Metode
muqarin:
Tafsir ini menggunakan metode perbandingan antara ayat dengan ayat, atau ayat
dengan hadits, atau antara pendapat-pendapat para ulama tafsir dengan
menonjolkan perbedaan tertentu dari obyek yang diperbandingkan itu.
Metode Maudhui
(tematik);
Tafsir maudhui dan cara kerjanya
Metode Maudhui
(tematik); metode tafsir yang
berusaha mencari jawaban Al-Qur’an dengan cara mengumpulkan ayat-ayat Al-Qur’an
yang mempunyai tujuan yang satu, yang bersama-sama membahas topik atau judul
tertentu dan menertibkannya sesuai dengan masa turunnya selaras dengan
sebab-sebab turunnya, kemudian memperhatikan ayat-ayat tersebut dengan
penjelasan-penjelasan, keterangan-keterangan dan hubungan-hubungannya dengan
ayat-ayat lain kemudian mengambil hukum-hukum darinya.
Langkah-langkah
metode mawdhu'iy: 1) Menetapkan
masalah yang akan dibahas (topik); 2) Menghimpun ayat-ayat yang berkaitan
dengan masalah tersebut; 3) Menyusun runtutan ayat sesuai dengan masa turunnya,
disertai pengetahuan tentang asbab al-nuzul-nya; 4) Memahami korelasi ayat-ayat
tersebut dalam surahnya masing-masing; 5) Menyusun pembahasan dalam kerangka
yang sempurna (outline); 6) Melengkapi pembahasan dengan hadis-hadis yang
relevan dengan pokok bahasan; 7) Mempelajari ayat-ayat tersebut secara
keseluruhan dengan jalan menghimpun ayat-ayatnya yang mempunyai pengertian yang
sama, atau mengkompromikan antara yang 'am (umum) dan yang khash (khusus),
mutlak dan muqayyad (terikat), atau yang pada lahirnya bertentangan, sehingga
kesemuanya bertemu dalam satu muara, tanpa perbedaan atau pemaksaan
Ayat-ayat tentang Tuhan
Hapalkan surat al-Baqarah: 255; QS al-Hasyr:
22-24, hubungkan dengan surat al-fatihah dan al-ikhlas; terjemahkan dan
tafsirkan serta beri kesimpulan.
Ayat-ayat tentang penciptaan Alam
Hapalkan: ayat-ayat tentang penciptaan awal
dunia (QS al-Anbiya: 30), ayat tentang akhir alam semesta (QS al-Anbiya: 104),
ayat tentang langit yang senantiasa hari demi hari berkembang ke segala arah
dengan kecepatan yang luar biasa (the expanding universe) (QS ad-Dzariyat: 47)
terjemahkan, tafsirkan serta beri kesimpulan.
Ayat-ayat tentang proses Reproduksi Manusia
Hapalkan: ayat-ayat tentang reproduksi
manusia dalam surat al-mukminun: 12-15, al-Insan: 2, al-Qiyamah: 36-39,
an-Najm: 45-46, terjemahkan, tafsirkan serta beri kesimpulan.
Ayat-ayat tentang hujan dan pemisah dua
lautan
Hapalkan ayat tentang proses terjadinya
hujan; QS an-Nur: 43, al-Ahqaf: 24 dan al-Hijr 22. Terjemahkan, tafsirkan serta
beri kesimpulan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar